Sa-Ijaan.com,Kotabaru– Kasus korupsi kembali mencoreng dunia perbankan tanah air. Seorang mantan Kepala Unit di salah satu Bank BUMN berinisial FM dan seorang teller berinisial AM diduga kuat melakukan tindak pidana korupsi senilai Rp 2,53 miliar dengan modus setor tunai fiktif. Dana hasil kejahatan tersebut ternyata digunakan untuk bermain judi online.
Berdasarkan Laporan Polisi Nomor: LP / A / 30 / X / Res.3.2./2024/Reskrim tanggal 7 Oktober 2024, kasus ini terjadi antara bulan Agustus hingga Oktober 2023 di salah satu kantor cabang Bank BUMN.
Kapolres Kotabaru AKBP Doli M Tanjung SIK mengatakan, Penyidikan menyebutkan FM sebagai pelaku utama, sementara AM membantu dalam melakukan transaksi fiktif tersebut.
“Modus yang digunakan terbilang rapi namun sangat merugikan negara. FM memanfaatkan posisinya sebagai Kepala Unit untuk melakukan 38 transaksi fiktif setor tunai ke rekening pribadinya,” jelas Kapolres saat konferensi pers, Senin (19/5/2025).
Transaksi ini dilakukan tanpa ada uang fisik, namun dicatat melalui sistem internal bank dengan bantuan AM yang saat itu bertugas sebagai teller.
“Transaksi dilakukan melalui aplikasi New Delivery System (NDS) menggunakan user ID milik AM, dengan nominal bervariasi antara Rp 10 juta hingga Rp 90 juta,” tambahnya.
Dari total dana hasil kejahatan sebesar Rp 2,53 miliar, penyidik berhasil menyelamatkan kembali dana negara sebesar Rp 970 juta. Sisanya diduga telah habis digunakan para tersangka untuk bermain judi online, sebagaimana motif yang terungkap dalam pemeriksaan.
Tindakan para tersangka dijerat dengan Pasal 2 Ayat (1) dan/atau Pasal 3 Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2021 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, jo Pasal 56 KUHP. Ancaman hukumannya sangat berat penjara hingga 20 tahun serta denda maksimal Rp 1 miliar.
“Kasus ini menjadi peringatan keras bagi institusi keuangan dan aparat penegak hukum tentang pentingnya pengawasan ketat terhadap sistem internal bank. Kepercayaan publik terhadap perbankan harus dijaga dari praktik-praktik curang yang tidak hanya merugikan negara, tetapi juga mencoreng integritas lembaga keuangan nasional,” tegasnya.
Penyidikan masih terus berlangsung dan aparat berwenang tengah menelusuri kemungkinan keterlibatan pihak lain serta upaya lanjutan pemulihan aset negara.(Cha)



